HEY!
Iya. Ternyata udah lama aku nggak posting di sini *ngelirik gambar tulip yang udah ilang. Kenapa ya? Coba diingat2. Hmm. mungkin karena sibukkah? Nggak juga. Punya 'mainan' barukah? Mungkin sih. Punya pacar barukah? hahaha...
Hmm.. mungkin karena sedang bosan saja, seperti biasanya. Tapi sekarang aku posting kok. Sambil menunggu makan siang.. dan bertanya-tanya, menu hari ini apa yah? Plis jangan daging lagi hiks... bisa-bisa aku kabur makan di luar lagi. Pemboyosan! Si tempuyung pasti lom bangun hiks.. dasar keblug:p
Loh, kok curhat gini? Huhuhu...
Duh,.... sudahlah.
Aku mo makan saja... *bergegas melangkah ke pantry
Tuesday, May 08, 2007
Tuesday, December 26, 2006
AKU & LAUT BIRU
kupikir ini adalah tempat yang tepat untuk menyepi.
sepanjang mata melihat hanya hamparan laut biru dengan kecipak lembut, tak begitu
beriak,dibatasi sebaris pantai berpasir putih. langit cerah, menggumpal awan meneduhkan
sampai
ke ulu hati. meski panas bukan kepalang. seperti ingin merasuk ke dalam
kulit, menembus pori-pori, menyetubuhi sekujur tubuh. namun sepoi angin
begitu membiuskan. ber-tank top dan bercelana pendek, aku
menyaksikan sebuah kedamaian luar biasa. ketentraman tiada tara. hanya aku dan lautan biru. mungkin Tuhan di sana sedang ricuh menggodaiku.
berjalan pelan.
kakiku terbenam di pasir putihnya. jejak tapak kakiku begitu mudah termarsir.
ini surga? tanyaku. sampai beda keringat dan airmata tak kutahu. aku amnesia. lupa segalanya.
indah
ini begitu mudah tereguk. ini akan memabukkan. sungguh memabukkan.
beribu puisi mengalir dari mulutku. merapal sejuta kalimat penuh madu.
aku bisa gila, keluhku.
warna-warni
parasut berparasailing membekaskan teriak girang di angkasa. mungkin
terpesona. mungkin melepaskan jenuh, agar tertinggal di udara dimakan
arakan awan. mungkin terkesiap akan kuasa-Nya.
terus berjalan.
aku tahu muka dan seluruh badanku terbakar. sengaja tanpa sunblock melapisi
kulit. biar saja indah ini membakar. membekaskan satu keindahan.
bahagia itu butuh pengorbanan, bukan?
jilatan air asin mampir di kakiku. biasanya aku buru-buru meraup pasir, menyimpannya di botol, kubawa pulang, menjadi teman baru pasir-pasir koleksiku. tapi kali ini tidak.
biar saja hanya senikmat. indah ini akan usai, cepat atau lambat.
Tuhan, aku telah merekamnya.
damai-Mu memang tiada tara:)
*Nusa Dua, 16.17
kupikir ini adalah tempat yang tepat untuk menyepi.
sepanjang mata melihat hanya hamparan laut biru dengan kecipak lembut, tak begitu
beriak,dibatasi sebaris pantai berpasir putih. langit cerah, menggumpal awan meneduhkan
sampai
ke ulu hati. meski panas bukan kepalang. seperti ingin merasuk ke dalam
kulit, menembus pori-pori, menyetubuhi sekujur tubuh. namun sepoi angin
begitu membiuskan. ber-tank top dan bercelana pendek, aku
menyaksikan sebuah kedamaian luar biasa. ketentraman tiada tara. hanya aku dan lautan biru. mungkin Tuhan di sana sedang ricuh menggodaiku.
berjalan pelan.
kakiku terbenam di pasir putihnya. jejak tapak kakiku begitu mudah termarsir.
ini surga? tanyaku. sampai beda keringat dan airmata tak kutahu. aku amnesia. lupa segalanya.
indah
ini begitu mudah tereguk. ini akan memabukkan. sungguh memabukkan.
beribu puisi mengalir dari mulutku. merapal sejuta kalimat penuh madu.
aku bisa gila, keluhku.
warna-warni
parasut berparasailing membekaskan teriak girang di angkasa. mungkin
terpesona. mungkin melepaskan jenuh, agar tertinggal di udara dimakan
arakan awan. mungkin terkesiap akan kuasa-Nya.
terus berjalan.
aku tahu muka dan seluruh badanku terbakar. sengaja tanpa sunblock melapisi
kulit. biar saja indah ini membakar. membekaskan satu keindahan.
bahagia itu butuh pengorbanan, bukan?
jilatan air asin mampir di kakiku. biasanya aku buru-buru meraup pasir, menyimpannya di botol, kubawa pulang, menjadi teman baru pasir-pasir koleksiku. tapi kali ini tidak.
biar saja hanya senikmat. indah ini akan usai, cepat atau lambat.
Tuhan, aku telah merekamnya.
damai-Mu memang tiada tara:)
*Nusa Dua, 16.17
Wednesday, October 04, 2006
DEMI SIAPA?
"Airmata di mata kanan saya ini masih berair. Tapi yang sebelah kiri sudah kering, tidak bisa menangis lagi," ucapnya sambil sibuk menyeka mata kanannya dengan tisu. Saya bingung, wajarkah di pertemuan pertama dia mengungkap cerita lamanya? Saya mencoba tersenyum. Mencoba menjadi bijak untuk mendengarKAN. Tak sekali orang yang baru pertama kali saya jumpai mencurahkan isi hatinya. Apa yang membuat mereka tanpa ragu serta merta bercerita? Bukankah yang wajar perlu waktu untuk mengenal saya, baru memercayakan cerita hidupnya pada saya? Tapi yang terjadi beberapa kali tidak begitu. Salah satunya wanita ini.
Saat saya tanya usia, dengan terus terang dia berujar,"Apa saya terlihat tua?" ia tersenyum lebar. "Selama 14 tahun saya menemaninya. Dia tak sekedar menjadi suami, tapi juga kakak, sahabat, bahkan ayah bagi saya. Dia berarti segalanya bagi saya." Tubuh saya ikut melemas.
"Saat suami saya meninggal, itu pukulan terberat buat saya. Tapi ternyata 'badai' itu belum cukup. Janin yang saya kandung pun meninggal. Hidup saya luluh lantak. Saya ingin mati saja." Kembali ia menyusut airmata. Saya tak tega. Sungguh. Jika saya sahabatnya (tentu dengan proses pengenalan yang lama) saya pasti memeluknya. Tapi dia baru saya jumpa. Itu pun tak sengaja. Ia dan saya dipertemukan karena pekerjaan. Dia seorang make-up artists. Kami sama-sama termangu menunggui si M yang belum datang juga. Sementara mas fotografer sudah wira-wiri dengan muka ditekuk seribu kali.
Mungkin begitulah cara kami membuang waktu lengang. Saling bercerita. Oh tepatnya, dia bercerita, saya mendengar, sesekali menimpali. Saya tak pandai bercerita. Saya tipe orang yang tidak terlalu terbuka untuk bercerita masalah saya, apalagi di pertemuan pertama, sementara wanita ini sebaliknya. Saya senang ia merasa nyaman bersama saya.
Saya tekun mendengar kelanjutan ceritanya. Sesekali saya bilang, tolong berhenti saja jika tidak kuat bercerita. Lagi-lagi ia tersenyum. "Nggak papa. Ini sudah lama. Hati saya memang masih terluka. Tapi saya mesti bertahan hidup. Satu-satunya yang bisa membuat saya bangkit ya diri saya sendiri. Maka disinilah saya sekarang." Lalu cerita kami beralih ke hal-hal yang lucu. Yang bisa membuyarkan kenangan masa lalunya. Tak lama si M datang. Dengan cekatan wanita ini membuka tas besarnya. Mencocokkan warna dengan karakter wajah M. Dan mulailah ia 'bekerja'. Disulapnya M menjadi luar biasa.
Aha! Warna.
Mungkin saat ia memulas wajah kliennya dengan warna, seketika itu juga ia sedang memulas hatinya. Begitulah caranya.
Saya tak bisa membayangkan jika saya menjumpainya beberapa bulan yang lalu, mungkin ia tak seperti ini. Mungkin mukanya kuyu, badannya kurus, dan tampangnya jelek sekali. Siapa yang membuatnya bangkit dan menapaki hidup dengan penuh semangat seperti sekarang ini? Dirinya sendiri, katanya tadi. Kalau tidak dirinya sendiri, siapa lagi?
Saya rasa dia benar:)
::studio 4 lt 4::
"Airmata di mata kanan saya ini masih berair. Tapi yang sebelah kiri sudah kering, tidak bisa menangis lagi," ucapnya sambil sibuk menyeka mata kanannya dengan tisu. Saya bingung, wajarkah di pertemuan pertama dia mengungkap cerita lamanya? Saya mencoba tersenyum. Mencoba menjadi bijak untuk mendengarKAN. Tak sekali orang yang baru pertama kali saya jumpai mencurahkan isi hatinya. Apa yang membuat mereka tanpa ragu serta merta bercerita? Bukankah yang wajar perlu waktu untuk mengenal saya, baru memercayakan cerita hidupnya pada saya? Tapi yang terjadi beberapa kali tidak begitu. Salah satunya wanita ini.
Saat saya tanya usia, dengan terus terang dia berujar,"Apa saya terlihat tua?" ia tersenyum lebar. "Selama 14 tahun saya menemaninya. Dia tak sekedar menjadi suami, tapi juga kakak, sahabat, bahkan ayah bagi saya. Dia berarti segalanya bagi saya." Tubuh saya ikut melemas.
"Saat suami saya meninggal, itu pukulan terberat buat saya. Tapi ternyata 'badai' itu belum cukup. Janin yang saya kandung pun meninggal. Hidup saya luluh lantak. Saya ingin mati saja." Kembali ia menyusut airmata. Saya tak tega. Sungguh. Jika saya sahabatnya (tentu dengan proses pengenalan yang lama) saya pasti memeluknya. Tapi dia baru saya jumpa. Itu pun tak sengaja. Ia dan saya dipertemukan karena pekerjaan. Dia seorang make-up artists. Kami sama-sama termangu menunggui si M yang belum datang juga. Sementara mas fotografer sudah wira-wiri dengan muka ditekuk seribu kali.
Mungkin begitulah cara kami membuang waktu lengang. Saling bercerita. Oh tepatnya, dia bercerita, saya mendengar, sesekali menimpali. Saya tak pandai bercerita. Saya tipe orang yang tidak terlalu terbuka untuk bercerita masalah saya, apalagi di pertemuan pertama, sementara wanita ini sebaliknya. Saya senang ia merasa nyaman bersama saya.
Saya tekun mendengar kelanjutan ceritanya. Sesekali saya bilang, tolong berhenti saja jika tidak kuat bercerita. Lagi-lagi ia tersenyum. "Nggak papa. Ini sudah lama. Hati saya memang masih terluka. Tapi saya mesti bertahan hidup. Satu-satunya yang bisa membuat saya bangkit ya diri saya sendiri. Maka disinilah saya sekarang." Lalu cerita kami beralih ke hal-hal yang lucu. Yang bisa membuyarkan kenangan masa lalunya. Tak lama si M datang. Dengan cekatan wanita ini membuka tas besarnya. Mencocokkan warna dengan karakter wajah M. Dan mulailah ia 'bekerja'. Disulapnya M menjadi luar biasa.
Aha! Warna.
Mungkin saat ia memulas wajah kliennya dengan warna, seketika itu juga ia sedang memulas hatinya. Begitulah caranya.
Saya tak bisa membayangkan jika saya menjumpainya beberapa bulan yang lalu, mungkin ia tak seperti ini. Mungkin mukanya kuyu, badannya kurus, dan tampangnya jelek sekali. Siapa yang membuatnya bangkit dan menapaki hidup dengan penuh semangat seperti sekarang ini? Dirinya sendiri, katanya tadi. Kalau tidak dirinya sendiri, siapa lagi?
Saya rasa dia benar:)
::studio 4 lt 4::
Wednesday, August 09, 2006
MERAPUH
Jika saat ini saya ditanya,
berapa kali kamu terantuk, San?
Dengan lapang, saya akan menjawab,
belakangan dunia sedang tak ramah sama saya.
Tak terhitung berapa kali saya terantuk. Yang terburuk, beberapa kali tangan saya menggapai, pegangan saya seperti menjauh. Saya kata, saya beruntung karena masih percaya pada-Nya. Batin saya masih sarat dengan Asma-Nya. Beberapa kali juga saya sempat marah sama Dia.
Ini tidak adil, cerca saya. Untungnya diam dan malam membukakan hati saya.
Siapa bilang dunia harus adil? Siapa bilang dunia mesti adil sama saya? Lalu saya pun menghujam dengan pertanyaan selanjutnya,
mengapa saya? Dari berjuta-juta manusia, mengapa harus saya?
Ternyata pertanyaan kedua ini saya jawab sendiri melalui sms kepada seorang sepupu yang di saat yang sama mempunyai masalah lebih berat dibanding masalah saya.
Karena Tuhan masih sayang, teramat sayang, maka semua ini terjadi.
Tiba-tiba hati saya meredup. Berharap bunyi sms yang saya kirim barusan mampu mengganti rengkuhan saya untuknya. Yang sebenarnya adalah, saya sedang memeluk diri sendiri. Mengobati lara hati sendiri:)
*Sering saya bilang kalau saya ingin terbang, tapi saya lupa kalau untuk terbang saya membutuhkan sayap.
Jika saat ini saya ditanya,
berapa kali kamu terantuk, San?
Dengan lapang, saya akan menjawab,
belakangan dunia sedang tak ramah sama saya.
Tak terhitung berapa kali saya terantuk. Yang terburuk, beberapa kali tangan saya menggapai, pegangan saya seperti menjauh. Saya kata, saya beruntung karena masih percaya pada-Nya. Batin saya masih sarat dengan Asma-Nya. Beberapa kali juga saya sempat marah sama Dia.
Ini tidak adil, cerca saya. Untungnya diam dan malam membukakan hati saya.
Siapa bilang dunia harus adil? Siapa bilang dunia mesti adil sama saya? Lalu saya pun menghujam dengan pertanyaan selanjutnya,
mengapa saya? Dari berjuta-juta manusia, mengapa harus saya?
Ternyata pertanyaan kedua ini saya jawab sendiri melalui sms kepada seorang sepupu yang di saat yang sama mempunyai masalah lebih berat dibanding masalah saya.
Karena Tuhan masih sayang, teramat sayang, maka semua ini terjadi.
Tiba-tiba hati saya meredup. Berharap bunyi sms yang saya kirim barusan mampu mengganti rengkuhan saya untuknya. Yang sebenarnya adalah, saya sedang memeluk diri sendiri. Mengobati lara hati sendiri:)
*Sering saya bilang kalau saya ingin terbang, tapi saya lupa kalau untuk terbang saya membutuhkan sayap.
Friday, July 07, 2006
DENGAN CINTA
Pagi buta.
Laki-laki paruh baya yang terlihat masih gagah, dengan pucuk hidung setinggi pelangi, bangun dengan syal terbelit di leher. Dingin. Dingin makin menyusup ketika tangannya menyentuh air wudhlu. Sangat dingin. Dingin yang biasa. Isyarat di keningnya terbaca. Terkantuk menuju mushola mungil. Dua rakaat. Shubuh kali ini sama seperti biasa. Dua rakaat. Mengusaikan sujud terakhir, meraih tasbih, mulutnya terkomat-kamit do’a: untuknya, untuk istrinya, untuk anak perempuannya, untuk kedua anak lelakinya, untuk semua yang disayanginya.
Tak enak badan, keluhnya sambil bangkit menuju istrinya. Kecup di kening setiap pagi, seperti biasa. Tak enak badan, tolong keroki. Istri yang setia meraih minyak angin dan koin. Dua benda ajaib ini mungkin salah satu pengerat kedua orang berumur ini. Di kamar anak perempuannya yang merantau, lelaki ini dikeroki sampai terkantuk, tidur lagi. Satu kecup di rambut, dan sang istri beranjak pergi, menanak nasi.
Laki-laki itu terlelap. Sangat lelap. Sangat penat.
Di luar semuanya terlelap. Matahari pun enggan beranjak. Masih mengantuk. Dunia sedang mengantuk. Tapi kali ini Tuhan tidak suka. Mengantuk di pagi hari tidak baik. Tidak sehat. Lalu dikirimnya. Goncangan "kecil"-Nya di hari itu, 27 Mei, 5.9 SR.
Semua terjaga. Neraka? Kiamat? Semuanya berhamburan. Bagaimana dengan laki-laki itu? Dia begitu terkantuk. Goncangan sehebat itu tak mampu membangunkannya. Tuhan tidak tega. Digerakkan kaki laki-laki tua itu keluar dari kamar sebelum sebuah lemari baju dari kayu menimpa tempat tidur dengan teganya. Dibawanya keluar, dimana tanahnya tak terbelah, dimana anak laki-laki dan istrinya berteriak menyadarkannya. Dia terjaga.
Ada apa? tanyanya kebingungan.
Ada gempa, dan tangan malaikat menuntun bapak keluar kamar.
Laki-laki gagah itu bapakku.
Hari ini adalah ulang tahunnya. Aku bersyukur Tuhan masih memberinya waktu untuk merayakan ulang tahunnya. Selamat ulang tahun, bapak:)
with love,
anak perempuanmu
Pagi buta.
Laki-laki paruh baya yang terlihat masih gagah, dengan pucuk hidung setinggi pelangi, bangun dengan syal terbelit di leher. Dingin. Dingin makin menyusup ketika tangannya menyentuh air wudhlu. Sangat dingin. Dingin yang biasa. Isyarat di keningnya terbaca. Terkantuk menuju mushola mungil. Dua rakaat. Shubuh kali ini sama seperti biasa. Dua rakaat. Mengusaikan sujud terakhir, meraih tasbih, mulutnya terkomat-kamit do’a: untuknya, untuk istrinya, untuk anak perempuannya, untuk kedua anak lelakinya, untuk semua yang disayanginya.
Tak enak badan, keluhnya sambil bangkit menuju istrinya. Kecup di kening setiap pagi, seperti biasa. Tak enak badan, tolong keroki. Istri yang setia meraih minyak angin dan koin. Dua benda ajaib ini mungkin salah satu pengerat kedua orang berumur ini. Di kamar anak perempuannya yang merantau, lelaki ini dikeroki sampai terkantuk, tidur lagi. Satu kecup di rambut, dan sang istri beranjak pergi, menanak nasi.
Laki-laki itu terlelap. Sangat lelap. Sangat penat.
Di luar semuanya terlelap. Matahari pun enggan beranjak. Masih mengantuk. Dunia sedang mengantuk. Tapi kali ini Tuhan tidak suka. Mengantuk di pagi hari tidak baik. Tidak sehat. Lalu dikirimnya. Goncangan "kecil"-Nya di hari itu, 27 Mei, 5.9 SR.
Semua terjaga. Neraka? Kiamat? Semuanya berhamburan. Bagaimana dengan laki-laki itu? Dia begitu terkantuk. Goncangan sehebat itu tak mampu membangunkannya. Tuhan tidak tega. Digerakkan kaki laki-laki tua itu keluar dari kamar sebelum sebuah lemari baju dari kayu menimpa tempat tidur dengan teganya. Dibawanya keluar, dimana tanahnya tak terbelah, dimana anak laki-laki dan istrinya berteriak menyadarkannya. Dia terjaga.
Ada apa? tanyanya kebingungan.
Ada gempa, dan tangan malaikat menuntun bapak keluar kamar.
Laki-laki gagah itu bapakku.
Hari ini adalah ulang tahunnya. Aku bersyukur Tuhan masih memberinya waktu untuk merayakan ulang tahunnya. Selamat ulang tahun, bapak:)
with love,
anak perempuanmu
Thursday, July 06, 2006
KE MANA CINTA ITU HILANG?
Kasus pertama, waktu saya nguprek quote untuk artikel pernikahan. Dari artikel-artikel yang saya kumpulin, ditambah cerita pengalaman teman waktu pra nikah, terus terang saya terkejut. Gamang, bimbang, ragu, campur aduk perasaan semacam ternyata emang terjadi sebelum hari H. Apa dia benar-benar teman sehidup semati dalam suka dan duka? Cinta sejatikah yang sedang dirasakan? Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau jodoh sebenarnya sedang di luar sana? Bla, bla, bla... Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ternyata memang mendera. Teman saya itu malah membatalkan pernikahan hanya gara-gara tidak yakin, padahal undangan sudah disebar, gedung sudah disewa, dan dia sudah mengajukan surat resign siap menjadi ibu rumah tangga full time! Mengapa cinta itu hilang begitu saja?
Kasus kedua, dua orang teman saya barengan curhat soal cintanya. Yang satu baru aja memulai, rasa cinta raib entah kemana. Yang satu tak jauh beda. Bagaimana bisa cinta itu hilang?
Kasus ketiga, saya ingat seorang pria yang sempat saya kagumi kharismanya. Membangun cinta sungguh dengan pengorbanan luar biasa. Giliran semuanya sudah tertata, terlihat begitu sempurna, tiba-tiba terkabar cerai. Lalu ke mana cinta itu hilang?
Hmm...
Kasus pertama, waktu saya nguprek quote untuk artikel pernikahan. Dari artikel-artikel yang saya kumpulin, ditambah cerita pengalaman teman waktu pra nikah, terus terang saya terkejut. Gamang, bimbang, ragu, campur aduk perasaan semacam ternyata emang terjadi sebelum hari H. Apa dia benar-benar teman sehidup semati dalam suka dan duka? Cinta sejatikah yang sedang dirasakan? Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau jodoh sebenarnya sedang di luar sana? Bla, bla, bla... Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ternyata memang mendera. Teman saya itu malah membatalkan pernikahan hanya gara-gara tidak yakin, padahal undangan sudah disebar, gedung sudah disewa, dan dia sudah mengajukan surat resign siap menjadi ibu rumah tangga full time! Mengapa cinta itu hilang begitu saja?
Kasus kedua, dua orang teman saya barengan curhat soal cintanya. Yang satu baru aja memulai, rasa cinta raib entah kemana. Yang satu tak jauh beda. Bagaimana bisa cinta itu hilang?
Kasus ketiga, saya ingat seorang pria yang sempat saya kagumi kharismanya. Membangun cinta sungguh dengan pengorbanan luar biasa. Giliran semuanya sudah tertata, terlihat begitu sempurna, tiba-tiba terkabar cerai. Lalu ke mana cinta itu hilang?
Hmm...
Tuesday, June 06, 2006
PUING
Ini bukan salah siapa-siapa.
Berhentilah untuk berujar “seandainya”. Meski pun “jika saja” akan sedikit meringankan beban kita.
Kini di sini kita. Di antara reruntuhan. Puing-puing. Wujud ketegaran yang kau perjuangkan dari tetes demi tetes keringat. Waktu demi waktu. Kesabaran demi kesabaran.
Ini adalah reruntuhan, puing-puing, bukti betapa perkasanya dirimu di masa lalu. Dulunya lantai, tembok, dan atap yang kau bangun untuk melindungi orang-orang tersayangmu. Sudah waktunya roboh, terserak, rata, luruh di kakimu.
(Nanar matamu membuatku ingin memelukmu.)
Kau tidak kehilangan keperkasaanmu. Sama sekali tidak.
Sudah lama kau membuktikannya. Gurat-gurat di wajahmu itu tandanya. Kau begitu kuat, perkasa, dan menjadi pelindung kami dulu, sekarang, dan selamanya. Memang sudah waktunya rumah kita menjadi puing-puing.
Sudahlah.
Mari bersama kita punguti. Ini hanya reruntuhan. Puing-puing. Kita bisa membangunnya lagi. Tembok yang lebih kuat. Rumah mungil yang meluap dengan cinta. Bersama yakin kita akan baik-baik saja:)
*pulang, untuk bapak.
Ini bukan salah siapa-siapa.
Berhentilah untuk berujar “seandainya”. Meski pun “jika saja” akan sedikit meringankan beban kita.
Kini di sini kita. Di antara reruntuhan. Puing-puing. Wujud ketegaran yang kau perjuangkan dari tetes demi tetes keringat. Waktu demi waktu. Kesabaran demi kesabaran.
Ini adalah reruntuhan, puing-puing, bukti betapa perkasanya dirimu di masa lalu. Dulunya lantai, tembok, dan atap yang kau bangun untuk melindungi orang-orang tersayangmu. Sudah waktunya roboh, terserak, rata, luruh di kakimu.
(Nanar matamu membuatku ingin memelukmu.)
Kau tidak kehilangan keperkasaanmu. Sama sekali tidak.
Sudah lama kau membuktikannya. Gurat-gurat di wajahmu itu tandanya. Kau begitu kuat, perkasa, dan menjadi pelindung kami dulu, sekarang, dan selamanya. Memang sudah waktunya rumah kita menjadi puing-puing.
Sudahlah.
Mari bersama kita punguti. Ini hanya reruntuhan. Puing-puing. Kita bisa membangunnya lagi. Tembok yang lebih kuat. Rumah mungil yang meluap dengan cinta. Bersama yakin kita akan baik-baik saja:)
*pulang, untuk bapak.
Subscribe to:
Posts (Atom)
